Juli 2, 2010

SHIFT KERJA ROTASI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN KEPRIBADIAN DAN CIRCADIAN

Ditulis dalam K3 (OHAS) pada 3:05 pm oleh merulalia

I. PENDAHULUAN

Penelitian menunjukkan bahwa kerja shift (kerja malam) merupakan sumber utama dari stress bagi para pekerja pabrik (Monk dan Tepas, 1985). Para pekerja shift (pekerja malam) lebih sering mengeluh tentang kelelahan dan gangguan perut dari para pekerja pagi atau siang dan dampak dari kerja shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin menyebabkan gangguan-gangguan perut. Pengaruhnya adalah emosional dan biologikal, karena gangguan ritme sirkadian (jam biologis tubuh) dari tidur atau daur keadaan bangun (wake cycle), pola suhu, dan ritme pengeluaran adrenalin.

Menurut Monk dan Folkard (1983) ada tiga faktor yang harus baik keadaannya agar dapat berhasil menghadapi kerja shift, yaitu:

  • tidur;
  • kehidupan sosial dan keluarga;
  • ritme sirkadian.

Faktor-faktor tersebut saling berkaitan, sehingga salah satu dapat membatalkan efek positif dari keberhasilan yang dicapai dengan kedua faktor lain.

Menurut Selye para pekerja yang biasa bekerja shift lama kelamaan akan merasa berkurang stresnya secara fisik. Namun perlu diingat bahwa ada pekerjaan-pekerjaan shift dimana tidak dapat timbul kebiasaan ini, yaitu pada pekerja rig lepas pantai yang bekerja 12 jam kerja bergantian shift siang dan malam selama 7 atau 14 hari berturut-turut tanpa adanya istirahat, dan kemudian memperoleh istirahat 7 atau 14 hari cuti rumah (Satherlan dan Cooper, 1986)

II.        TINJAUAN PUSTAKA

A.        Pengertian Shift Kerja

Menurut Tepas dan Monk pengertian kerja shift sangat bervariasi, tergantung dari sistem shiftnya. Dalam hal shift rotasi, pengertian kerja shift adalah kerja yang dibagi secara bergiliran dalam waktu 24 jam. Pekerja yang terlibat dalam sistem kerja shift rotasi akan berubah-ubah waktu kerjanya, pagi, sore, dan malam hari, sesuai dengan sistem kerja shift rotasi yang ditentukan.

Sistem kerja shift rotasi ada yang bersifat lambat, ada yang bersifat cepat. Dalam sistem kerja shift rotasi yang bersifat lambat, pertukaran shift berlangsung setiap bulan atau setiap minggu, misalnya seminggu kerja malam, seminggu kerja sore, dan seminggu kerja pagi. Sedangkan dalam sistem kerja shift rotasi yang cepat, pertukaran shift terjadi setiap satu, dua atau tiga hari.

Menurut Grandjean, sampai tahun 1960an, interval rotasi kerja shift dibuat selama mungkin, sekitar 3 – 4 minggu. Dasar pemikiran saat itu adalah bahwa para pekerja shift memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat beradaptasi dengan jadwal kerja shift rotasi yang baru. Namun sekarang ternyata dasar pemikiran tersebut tidak tepat. Setelah beberapa minggu pun para pekerja sebenarnya tidak dapat beradaptasi dengan baik, terutama dalam hal tidur. Oleh karena itu disarankan untuk menggunakan sistem kerja shift rotasi yang cepat.

Di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, sistem kerja shift rotasi yang umum digunakan adalah sistem 2 – 2 – 2 yang disebut dengan sistem metropolitan rota, dan sistem 2 – 2 – 3 yang disebut dengan continental rota. Kedua sistem ini termasuk sistem kerja shift rotasi cepat yang mengikuti rekomendasi ergonomik yang terbaru.

Minggu Hari Shift Minggu Hari Shift
1 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Pagi

Pagi

Sore

Sore

Malam

Malam

Libur

5 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Malam

Malam

Libur

Libur

Pagi

Pagi

Sore

2 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Libur

Pagi

Pagi

Sore

Sore

Malam

Malam

6 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Sore

Malam

Malam

Libur

Libur

Pagi

Pagi

3 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Libur

Libur

Pagi

Pagi

Sore

Sore

Malam

7 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Sore

Sore

Malam

Malam

Libur

Libur

Pagi

4 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Malam

Libur

Libur

Pagi

Pagi

Sore

Sore

8 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Pagi

Sore

Sore

Malam

Malam

Libur

Libur

Tabel 1: Sistem Shift  2 – 2 – 2

Minggu Hari Shift Minggu Hari Shift
1 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Pagi

Pagi

Sore

Sore

Malam

Malam

Malam

3 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Malam

Malam

Libur

Libur

Pagi

Pagi

Pagi

2 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Libur

Libur

Pagi

Pagi

Sore

Sore

Sore

4 Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

Sabtu

Minggu

Sore

Sore

Malam

Malam

Libur

Libur

Libur

Tabel 2: Sistem Shift  2 – 2 – 3

Pada sistem 2 – 2 – 2, hari libur Sabtu dan Minggu akan terjadi setiap delapan minggu, sedangkan pada sistem 2 – 2 – 3, hari libur Sabtu dan Minggu akan terjadi setiap empat minggu. Oleh karena itu, para pekerja umumnya lebih menyukai sistem 2 – 2 – 3.

Di Amerika jadwal sistem kerja shift rotasi yang umum adalah 5 – 5 – 5 (5 hari pagi, 5 hari siang, 5 hari malam, diikuti dengan 2 hari libur pada setiap akhir shift). Kerja shift pagi biasanya dimulai antara pukul 5 – 8 pagi, berakhir pukul 2 – 6 sore. Sistem kerja shift rotasi sore dimulai antara pukul 2 – 6 sore, berakhir antara pukul 10 – 2 tengah malam, sedangkan sistem kerja shift rotasi malam dimulai antara pukul 10 – 2 tengah malam, berakhir pukul 5 – 8 pagi.

Sistem kerja shift rotasi ini juga dapat menimbulkan efek negatif, disamping itu pula menimbulkan hal-hal yang positif. Dampak negatif sistem kerja shift rotasi antara lain rendahnya kuantitas dan kualitas tidur, gangguan kehidupan keluarga dan kehidupan sosial, keluhan pencernaan dan jantung, dan masalah-masalah kesehatan mental. Sistem kerja shift rotasi juga sering dihubungkan dengan ketidakhadiran kerja, penurunan performance, dan kecelakaan di tempat kerja, sedangkan dampak positifnya antara lain dapat meningkatkan pendapatan, memberikan lingkungan kerja yang sepi dan memberikan waktu libur yang lebih banyak.

Dampak sistem kerja shift rotasi terhadap individu akan berlainan tergantung dari perbedaan-perbedaan individual yang ada. Beberapa perbedaan individual tersebut antara lain, tipe circadian (tipe siang-tipe malam), tipe kepribadian (extrovert-introvert), usia, jenis kelamin, kehamilan, kebugaran fisik, fleksibilitas tidur, dan kemampuan untuk mengatsi rasa kantuk. Individu yang kurang mampu mengatasi rasa kantuk, atau menderita penyakit tertentu, memiliki tolerasi yang lebih rendah terhadap sistem kerja shift dibandingkan dengan individu yang mampu mengatasi rasa kantuk, atau individu yang sehat. Toleransi yang rendah menunjukkan sikap yang negatif terhadap sistem kerja shift.

Waktu kerja bagi seseorang menentukan efisiensi dan produktivitasnya. Segi-segi terpenting bagi persoalan waktu kerja meliputi:

  1. Lamanya seseorang mampu bekerja secara baik.
  2. Hubungan antara waktu kerja dengan istirahat.
  3. Waktu bekerja dalam sehari menurut periode yang meliputi siang (pagi, siang, sore) dan malam.

Lamanya seseorang bekerja sehari secara baik pada umumnya adalah 6 – 8 jam. Sisanya (16 – 18 jam) dipergunakan untuk kehidupan dalam keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan lainnya. Memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan tersebut biasanya tidak disertai effisiensi yang tinggi, bahkan biasanya akan terlihat penurunan produktivitas serta kecenderungan timbulnya kelelahan, penyakit, dan kecelakaan. Dalam seminggu, seseorang biasanya dapat bekerja dengan baik selama 40 – 50 jam. Lebih dari itu, akan terlihat kecenderungan timbulnya hal-hal yang negatif. Makin panjang waktu kerja, makin besar kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Jumlah 40 jam waktu kerja dalam seminggu ini dapat dibagi menjadi 5 atau 6 hari kerja, tergantung dari beberapa faktor.

Jika diteliti suatu pekerjaan yang biasa, tidak terlalu berat ataupun juga ringan, produktifitasnya akan mulai menurun setelah 4 jam bekerja. Keadaan ini terutama akan sejalan dengan menurunnya kadar gula dalam darah. Untuk hal ini, perlu istirahat dan kesemapatan untuk makan yang akan meninggikan kembali kadar bahan bakar dalam tubuh. Oleh karena itu, istirahat setengah jam setelah 4 jam bekerja terus-menerus sangat penting artinya.

B.        Sikap Terhadap Sistem Kerja Shift Rotasi

Sama halnya dengan sikap tehadap objek-objek lainnya, sikap terhadap sistem kerja shift rotasi terbentuk karena adanya interaksi antara faktor-faktor yang berasal dari diri individu (faktor internal) dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu (faktor eksternal). Faktor internal antara lain tipe kepribadian, tipe sirkadian, usia dan fleksibilitas tidur, sedangkan faktor eksternal antara lain sistem kerja shift, kondisi kerja dan karakteristik pekerjaan. Perubahan faktor-faktor internal dan atau eksternal akan mempengaruhi sikap individu terhadap sistem kerja shift rotasi.

Penelitian-penelitian tentang sikap terhadap sistem kerja shift rotasi memberikan hasil yang tidak konsisten. Hal ini tidak saja karena interaksi variabel-variabel personal, sosial dan organisasi yang diteliti, tetapi juga karena pengaruh dari alat ukur yang digunakan (Golec, 1993)

Menurut Nachreiner (dalam Golec, 1993), indikator dari sikap terhadap sistem kerja shift rotasi adalah aspek positif dan negatif dari sistem kerja shift tersebut. Aspek positifnya adalah peningkatan keuangan dan lingkungan kerja yang sepi, sedangkan aspek negatifnya adalah peningkatan ketidakhadiran kerja, gangguan kesehatan dan masalah sosial. Di sisi lain, Rosa dan Colligan (1997) mengatakan bahwa aspek positif dari sistem kerja shift rotasi adalah peningkatan pendapatan serta mempunyai banyak waktu di siang hari, sedangkan aspek negatifnya adalah gangguan tidur, masalah produktivitas dan keselamatan kerja, gangguan kehidupan keluarga dan hubungan sosial, serta gangguan kesehatan (fisik dan psikis).

Dalam penelitian ini, pengukuran sikap terhadap sistem kerja shift rotasi mengacu pada aspek positif dan negatif dari sistem kerja shift rotasi yang dikemukakan oleh Nachreiner dan Rosa & Colligan. Pernyataan-pernyataan pada skala sikap merupakan representasi dari permasalahan sistem kerja shift rotasi secara umum.

Dalam hal periode kerja siang atau malam. Sehubungan dengan kerja malam ini, dapat dikemukakan hal-hal sebagi berikut:

  1. Irama faal manusia sedikit atau banyak akan terganggu oleh kerja dengan shift malam karena akan tidur pada siang harinya. Fungsi-fungsi fisiologis tenaga kerja dapat disesuaikan sepenuhnya dengan irama kerja yang demikian. Hal ini mudah dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran seperti suhu badan, nadi, tekanan darah, dan lainnya dari orang yang bekerja dengan shift malam dibandingkan dengan waktu bekerja pada siang hari. Semua ini sekarang banyak dipelajari dalam ilmu kronobiologi dalam aspek irama hayati.
  2. Demikian pula metabolisme tubuh tidak semuanya dapat, bahkan banyak aspek-aspek yang sama sekali tidak dapat diadaptasi dengan bekerja pada malam hari dan tidur siang hari. Keseimbangan elektrolit sebagai akibat albumin dan klorida di darah dapat menyesuaikan diri dengan keperluan kerja malam, tetapi pertukaran zat-zat seperti kalium, sulfur, fosfor, mangan, dan lainnya sangat kuat terikat oleh sel-sel, sehingga dengan pergantian waktu kerja dari siang menjadi malam tidak dapat mempengaruhinya. Dengan kata lain, metabolisme zat-zat terakhir tidak dapat diserasikan dengan keperluan kerja malam.
  3. Kelelahan pada kerja malam sangat relatif sangat besar. Karena antara lain ialah faktor faal dan metabolisme yang tidak dapat diserasikan. Hal penting lainnya adalah sangat kuatnya kerja saraf parasimpatis dibandingkan dengan saraf simpatis pada malam hari. Padahal seharusnya untuk bekerja, simpatis harus melebihi kekuatan parasimpatis.
  4. Jumlah jam kerja yang dipakai untuk tidur bagi pekerja malam pada siang harinya relatif jauh lebih kecil dari seharusnya, dikarenakan gangguan suasana siang hari seperti kebisingan, suhu, pencahayaan, dan lainnya dan oleh karena kebutuhan tubuh yang tidak dapat diubah seluruhnya menurut kebutuhan, yaitu terbangun karena dorongan rasa lapar atau ingin buang air kecil yang relatif lebih banyak pada siang hari.
  5. Alat pencernaan biasanya tidak berfungsi secara normal pada kerja kondisi demikian. Oleh karena itu jumlah makanan yang diambil relatif lebih sedikit, sedangkan pencernaan pun tidak bekerja dengan baik dalam metabolisme makanan.
  6. Kurang tidur dan kurang berfungsinya alat pencernaan berakibat pada penurunan berat badan.
  7. Selain soal biologis dan faal, kerja malam sering kali disertai dengan reaksi psikologis sebagai suatu mekanisme defensif terhadap gangguan tubuh akibat ketidakserasian tubuh terhadap pola kerja malam. Akibat dari itu, keluhan-keluhan akan banyak ditemukan pada tenaga kerja yang bekerja pada malam hari.
  8. Pengaruh-pengaruh kerja malam tersebut biasanya bersifat kumulatif. Makin panjang giliran kerja malam, makin besar efek yang dimaksud.

C.        Kepribadian

Masing-masing ahli mengemukakan definisi mereka tentang kepribadian. Oleh karena itu tidak heran jika ditemukan lebih dari lima puluh definisi kepribadian. Namun jika dikelompok-kelompokan berdasarkan cara pendekatannya, ada dua kelompok teori yaitu:

  1. Teori-teori dengan pendekatan tipelogis, antara lain teori Plato dan Heymans.
  2. Teori-teori dengan pendekatan sifat (traits approach), antara lain teori Allport, Freud, Jung, dan Eysenk.

Pendekatan tipologis beranggapan bahwa kepribadian manusia ditentukan oleh komponen-komponen dasar yang mendominasi individu. Komponen tersebut dapat berupa cairan tubuh, bentuk tubuh atau temperamen. Pendekatan sifat beranggapan bahwa variasi kepribadian manusia ditentukan oleh sifat-sifat tertentu yang relatif stabil dan menetap. Sifat-sifat ini yang membedakan satu individu dengan individu lainnya, sehingga dapat dianggap sebagai variabel perbedaan individu (Hall & Lindzey, 1978).

Konsep sifat didasarkan atas tiga asumsi, yaitu:

  1. Individu memiliki ciri-ciri internal atau sifat yang relatif stabil
  2. Perbedaan perilaku individu sejalan dengan perbedaan ciri-ciri tersebut
  3. Apabila perbedaan individu ini dapat dikenali dan diukur, perbedaan tersebut berguna untuk mencirikan kepribadian mereka.

Teori sifat merupakan teori yang paling banyak digunakan dalam penelitian karena teori ini paling banyak memberikan bukti-bukti empiris. Salah satu teori sifat yang diterima dan digunakan secara luas adalah teori dimensi kepribadian Eysenck (Suryabrata, 1998; Boeree, 2000). Menurut Eysenck (1976), kepribadian adalah…

“the sum-total of actual or potensial behavior-patterns of the organism as determined by heredity and environtment; it originates and develops through the functional interaction of the four main sectors into which these behavior patterns are organized: the cognitive sector (intellegence), the conative sector (character), the affective sector (temperament), and somatic sector (constitution).

Eysenck percaya bahwa dasar dari kepribadian meliputi faktor genetik, fisiologi dan lingkungan. Individu lahir dengan sistem saraf tertentu yang kemudian berinteraksi dengan predisposisi biologis dan kondisi lingkungan membentuk sutau kepribadian tertentu.

Menurut Eysenck ada dua dimensi pokok kepribadian. Dimensi kedua adalah extraversion-introversion.

Dimensi pertama berkaitan dengan gangguan perasaan (neuroticism). Dari penelitian yang dilakukannya, Eysenck menemukan bahwa orang-orang yang nervous (was-was, resah) cenderung lebih rentan atau lebih mudah mengalami gangguan perasaan, dibandingkan dengan orang-orang yang stabil emosinya. Jadi, pada sisi ekstrem yang satu, terdapat golongan yang mudah terganggu perasaannya seperti was-was, resah dan mudah tersinggung, sedangkan di sisi lain terdapat golongan yang emosinya stabil dan tenang.

Menurut Eysenck, kondisi ini ada hubungannya dengan sistem saraf sympathetic. Sistem saraf ini berfungsi mengontrol reaksi emosional manusia pada situasi-situasi darurat. Sebagian individu mempunyai sistem saraf sympathetic yang lebih responsif daripada sebagian individu lainnya. Beberapa individu menghadapi situasi darurat dengan santai, yang lain dengan sedikit rasa takut, tetapi sebagian lagi merasa sangat takut bahkan oleh kecelakaan kecil saja.

Dimensi kedua adalah extraversion-introversion. Dimensi ini juga memiliki dua sisi. Di satu sisi disebut kepribadian extravert, di sisi lain disebut kepribadian introvert. Kelompok extravert lebih suka bergaul dalam masyarakat. Kelompok ini berkepribadian aktif, impulsif, optimis, suka berteman, tidak peduli, berpikir praktis, serta berorientasi pada hal – hal yang memberi rangsangan dan berani ambil resiko. Sedangkan kelompok introvert lebih senang sendiri. Kelompok ini cenderung pemalu, pendiam, pasif, terkendali, bertanggung jawab, bertindak hati–hati dan berpikir reflektif atau banyak pertimbangan.

Menurut Eysenck, perbedaan sifat ini ditentukan berdasarkan keseimbangan proses excitation dan inhibition yang terjadi dalam sistem saraf pusat. Excitation adalah proses otak mem”bangun”kan dirinya (waking itself up), menjadi siaga dan siap belajar. Sedangkan inhibition adalah proses otak me”nenang”kan dirinya (calming itself down) baik dengan cara bersantai atau tidur, atau dengan menjaga dirinya dari stimulasi lingkungan.

Seorang extravert mempunyai inhibition yang kuat dan baik. Jika ia berhadapan dengan stimulasi yang traumatik, misalnya dengan kecelakaan mobil, otaknya langsung menenangkan diri sehingga ia tidak merasakan dampak mental yang kuat dari kejadian tersebut. Oleh karena itu, keesokan harinya ia mungkin sudah siap untuk mengendarai mobil lagi. Sedangkan seorang introvert mempunyai inhibition yang lemah dan kurang baik. Jika dihadapkan pada situasi di atas, otaknya tidak secara cepat menenangkan diri sehingga ia tetap siaga serta mampu mengingat semua yang terjadi. Oleh karena itu, sangat mungkin ia tidak mau lagi mengendarai mobil. Dalam penelitian ini, dimensi yang diteliti adalah extraversion-introversion. Menurut Eysenck, dimensi tersebut dapat diandalkan dalam melihat perbedaan perilaku individu. Dimensi pertama, neurocitismstability tidak menjadi fokus penelitian karena dimensi tersebut terkait adanya gangguan perasaan.

Ada tujuh aspek yang terkandung dalam pengertian extraversion-introversion (Boeree, 2000) yaitu:

1.  Activity

Aspek ini berkaitan dengan faktor aktivitas. Individu yang cenderung extravert biasanya aktif dan energik, menyukai aktivitas fisik, termasuk kerja keras dan olah raga serta memiliki minat yang bervariasi. Dilain pihak, individu yang cenderung introvert biasanya terkesan kurang aktif. Mereka lebih senang memi.kirkan sesuatu daripada melakukan sesuatu. Mereka menyukai aktivitas yang tidak terburu-buru.

2.  Sociability

Sociability adalah kemampuan bermasyarakat. Individu yang cenderung extravert menyukai pergaulan, pesta-pesta dan acara-acara sosial, cenderung mencari dan membina hubungan dengan orang lain, serta merasa senang bertemu dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Di sisi lain, individu yang cenderung introvert lebih memilih mempunyai teman-teman dekat dan lebih menikmati melakukan sesuatu sendirian. Mereka cenderung merasa cemas jika berhubungan dengan orang lain. Walaupun mereka sendiri tidak merasa ada sesuatu yang kurang, bagi orang lain mereka terlihat sebagai orang yang terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri, dan mungkin juga kurang ramah.

3.  Risk Taking

Aspek ke tiga adalah faktor pengambilan resiko (risk taking). Individu yang tergolong extravert mencari ”reward” dengan resiko sekecil mungkin. Mereka beranggapan bahwa faktor resiko merupakan bumbu kehidupan. Mereka juga tidak takut pada perubahan atau pengungkapan perasaan. Di lain pihak, individu yang tergolong introvert lebih menyukai kebiasaan keamanan dan keselamatan, bahkan jika itu berarti mengorbankan sebagian kesenangan hidupnya. Mereka cenderung dikuasai perasaan takut.

4.  Impulsiveness

Aspek ke empat berkaitan dengan keimpulsif-an (impulsiveness). Individu yang termasuk extravert cenderung menunjukkan ciri kepribadian yang impulsif, bertindak tanpa dipikirkan dahulu, membuat keputusan secara tergesa-gesa tanpa informasi yang memadai, biasanya riang tidak ada yang dipikirkan (carefree), mudah berubah dan tidak bisa diramalkan. Di sisi lain, individu yang termasuk introvert sangat berhati-hati dalam membuat keputusan dan menyukai sesuatu yang dapat dikontrol oleh dirinya. Mereka sistematik, teratur, berhati-hati dan bertanggung jawab secara sungguh-sungguh. Mereka kurang spontan dan dikendalikan oleh rasa takut.

5.  Expresiveness

Expresiveness adalah kemampuan untuk menyatakan atau mengungkapan perasaan-perasaan cinta, benci, sedih, marah atau takut, secara terbuka dan dapat diamati. Individu yang tergolong extravert menunjukkan kecenderungan perasaan secara demonstratif, dan mudah berubah. Di lain pihak, individu yang tergolong introvert lebih banyak menyembunyikan perasaan. Mereka mencoba mengubur rasa marah di masa lalu dan membiarkan diri frustasi dan menganggap semua tidak pernah terjadi.

6.  Reflectiveness

Reflectiveness adalah memikirkan atau membayangkan. Individu yang cenderung introvert berminat terhadap pengetahuan tetapi lebih untuk diri sendiri, bukan untuk diterapkan secara praktis. Mereka senang berpikir, intsropeksi dan banyak pertimbangan sebelum melakukan tindakan. Mereka menyukai ide-ide, hal-hal yang abstrak dan renungan-renungan. Kesenangan terhadap ide-ide intuitif ini merupakan dasar dari kreativitas. Di sisi lain, individu yang cenderung extravert cenderung lebih praktis. Mereka lebih senang melakukan sesuatu daripada memikirkan sesuatu.

7.  Responsibility

Responsibility (tanggung jawab) adalah sifat yang dimiliki individu yang cenderung introvert. Mereka berhati-hati, dapat dipercaya dan sungguh-sungguh. Di lain pihak, individu yang cenderung extravert cenderung sembarangan, kurang peduli dan kurang bertanggung jawab dibandingkan dengan individu yang introvert, serta tidak dapat diramalkan.

D.        Circadian

Istilah circadian pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Franz Halberg, seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1959, untuk menjelaskan terjadinya perubahan fungsi-fungsi tubuh pada diri manusia. Istilah ini berasal dari bahasa latin, circa yang berarti ”sekitar” dan dies yang berarti “satu hari”. Jadi yang disebut circadian adalah perubahan fungsi-fungsi tubuh pada diri manusia yang terjadi dalam satu hari. Karena perubahan fungsi-fungsi tubuh tersebut mengikuti satu ritme tertentu, maka konsep circadian ini lebih dikenal dengan sebutan ritme circadian (circadian rhytm).

Rosa dan Colligan (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai suatu ritme tubuh yang ”ups” dan ”down” yang secara teratur dalam rentang waktu kurang lebih 24 jam. Fungsi-fungsi tubuh yang dimaksud antara lain suhu badan, kesiagaan, detak jantung, tekanan darah, pola tidur-bangun, serta kemampuan mental. Fungsi-fungsi tubuh tersebut akan meningkat atau sangat aktif pada siang hari tetapi akan menurun atau tidak aktif pada malam hari. Masa selama siang hari disebut sebagai fase ergotropic dimana kinerja manusia berada pada puncaknya, sedangkan masa malam hari disebut fase trophotropic dimana terjadi proses istirahat dan pemulihan tenaga.

Ritme circadian merupakan salah satu bentuk ritme biologis. Bentuk ritme biologis lainnya adalah ritme Ultradian dan ritme Infradian. Ritme Ultradian adalah ritme perubahan fungsi-fungsi tubuh yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari 2 jam, misalnya ritme tubuh yang terjadi pada saat tidur atau saat individu sedang mengamati sesuatu, sedangkan ritme Infradian adalah perubahan fungsi-fungsi tubuh yang terjadi dalam rentang waktu lebih dari 28 jam, misalnya siklus menstruasi pada wanita.

Semua bentuk ritme biologis, termasuk ritme circadian, dipengaruhi oleh faktor internal (endegenous) dan eksternal (exogenous atau disebut dengan zeitgebers). Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Beberapa peneliti percaya bahwa pusat jam biologis internal ini terletak di suatu area di otak yang disebut nucleus suprachiasmatic, namun hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Faktor eksternal berhubungan dengan lingkungan natural di luar tubuh seperti siklus gelap-terang (siang-malam), suhu ruang, perubahan-perubahan musim, interaksi sosial dengan indivisu yang lain serta waktu/jam makan yang semuanya mempengaruhi siklus aktivitas fungsi-fungsi tubuh.

Ritme circadian untuk setiap individu berbeda. Ada individu yang merasa lebih aktif dan siaga pada siang hari dan ada yang merasa lebih aktif dan siaga pada malam hari. Pola yang bersifat individu ini disebut chronotype atau tipe circadian dan ini bersifat alamiah. Artinya, individu dapat lahir dengan kecenderungan tipe circadian tertentu yang tidak mudah berubah, namun dalam batas-batas tertentu mampu melakukan adaptasi. Kemampuan adaptasi ini dapat dilihat pada saat seseorang melakukan perjalanan yang melintasi beberapa zona. Pada saat ia kembali di tempat tujuan untuk beberapa saat ia akan mengalami ketidakseimbangan yang dikenal dengan istilah jet lag. Menurut Eastman Kodak Company (1986) dibutuhkan waktu antara 1 – 2 hari untuk menyesuaikan kembali ritme circadian individu dengan lingkungan alamiah di sekitarnya.

Ada dua tipe circadian, yaitu tipe siang (Morningness) dan tipe malam (Eveningness). Individu yang termasuk kategori tipe siang (yang sering disebut dengan Larks) adalah individu yang ritme circadiannya kuarang lebih 2 jam lebih cepat/awal daripada ritme circadian populasi individu secara keseluruhan. Mereka pada umumnya bangun sekitar pukul 04.00 – 06.00 pagi dan tidur pada pukul 20.00 – 22.00 malam. Sedangkan individu yang termasuk kategori malam (yang sering disebut dengan istilah owls) adalah individu yang ritme circadiannya kuarang lebih 2 jam lebih lambat daripada ritme circadian populasi individu secara keseluruhan. Mereka umumnya bangun sekitar pukul 08.00 – 10.00 pagi dan baru tidur sekitar pukul 24.00 tengah malam – 02.00 pagi.

Perbedaan waktu tidur-bangun antara tipe siang dan tipe malam sangat jelas terlihat pada saat libur. Orang-orang tipe malam akan bangun lebih siang daripada orang-orang tipe siang. Tetapi dalam hal lama tidur, tidak ada perbedaan diantara kedua tipe tersebut.

Selain berbeda  dalam waktu tidur-bangun, tipe siang dan tipe malam juga berbeda dalam hal tingkat tingkat tinggi atau rendahnya kesiagaan individu. Tingkat kesiagaan tertinggi tipe siang terjadi sekitar pukul 10.00 siang dan terendah pukul 04.00 pagi, sedangkan tipe malam, tingkat kesiagaan tertinggi terjadi sekitar pukul 14.00 siang dan terendah sekitar pukul 08.00 pagi. Perbedaan kesiagaan ini penting untuk diperhatikan karena jira individu bekerja dalam keadaan kuarang siaga, maka ia akan mudah membuat kesalahan bahkan dapat menimbulkan kecelakaan verja.

Beberapa studi tentang toleransi terhadap kerja shift malam menemukan bahwa mereka yang termasuk tipe siang akan lebih sensitif terhadap mundurnya jam tidur malam, karena jangka waktu (lamanya) tidur malam menjadi lebih singkat. Ditemukan adanya penurunan tingkat kesegaran (fitness) setelah kerja shift malam. Kelompok tipe siang juga menunjukkan ketidakpuasan kerja terhadap kerja shift malam dibandingkan dengan tipe malam dan lebih sering mengalami gangguan pencernaan dibandingkan dengan tipe malam.

Dalam hubungannya dengan penyesuaian diri ditemukan bahwa tipe circadian ini merupakan prediktor dari keberhasilan sistem kerja shift rotasi. Studi longitudinal tentang dampak fisik dan psikososial dari sistem kerja shift rotasi mengungkapkan bahwa tipe siang lebih sering mendapat kesulitan dengan jadwal kerja yang mencakup kerja malam dan ditemukan pula adanya ketidakseimbangan menyesuaikan diri pada kelompok tipe siang dan kelompok netral. Sebaliknya ditemukan proporsi yang besar dari tipe malam yang stabil dan “adjusted”.

Salah satu faktor yang mempengaruhi ritme circadian dan pola tidur-bangun adalah usia. Sejalan dengan bertambahnya usia biasanya antara 40 – 45 tahun, terjadi perubahan pada jam biologis internal yang mempengaruhi koordinasi antara beberapa fungsi tubuh seperti suhu badan, siklus tidur-bangun dan tingkat hormon. Perubahan ini menyebabkan tidur menjadi mudah terganggu terutama pada malam hari.

Menurut Koller, usia kritis bagi pekerja shift adalah usia 40 – 50 tahun. Pada usia tersebut, penyesuaian circadian (terhadap kerja shift) menjadi lebih lambat dibandingkan dengan pekerja shift yang berusia lebih muda. Hal ini menandakan bahwa pekerja shift pada usia 40 – 50 tahun memerlukan waktu yang lebih lama dalam melakukan adaptasi terhadap kerja shift. Selain itu, tingkat kepuasan terhadap sistem kerja shift rotasi paling rendah ditemukan pada kelompok usia 41 – 50 tahun.

Ditinjau dari sudut Psikologi Perkembangan, usia 40 – 50 tahun termasuk kategori masa dewasa madya, yaitu 40 – 60 tahun.Pada masa ini akan terjadi perubahan fisik, psikologis dan sosial yang semakin jelas dibandingkan dengan masa dewasa dini (usia 18 – 40 tahun). Perubahan yang terjadi antara lain yaitu menurunnya kemampuan indera mata dan telinga, meningkatnya tekanan darah, timbulnya berbagai penyakit, perubahan minat baik dalam hal penampilan, rekreasi maupun urusan kemasyarakatan.

Pada masa dewasa dini (18 – 40 tahun), kegiatan sosial sering sangat terbatas karena berbagai tekanan pekerjaan dan keluarga. Pada masa ini individu pada umumya sudah menyelesaikan pendidikan formal dan masuk pada dunia kerja dan rumah tangga. Hubungan dengan kelompok teman sebaya menjadi renggang dan keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah terus berkurang. Akibatnya banyak orang dewasa muda mengalami apa yang oleh Erikson (dalam Hurlock, 1980) disebut krisis keterasingan , yaitu masa kesepian karena terisolasi dari kelompok sosial. Tetapi rasa keterasingan ini dikompensasi dengan semangat bersaing dan keinginan yang kuat untuk maju dalam karir. Oleh karena itu, orang dewasa muda umumnya mencurahkan sebagian besar waktu dan tenaga mereka untuk pekerjaan. Hanya tersisa sedikit waktu untuk bersosialisasi.

Pada masa dewasa madya (40 – 60 tahun), individu juga mengalami apa yang dinamakan emptinest, yaitu masa sepi karena anak-anak tidak lagi tinggal bersama mereka. Setelah bertahun-tahun hidup dalam rumah yang berpusat pada keluarga, sekarang berpusat pada pasangan suami-istri. Sebagai konsekuensinya, mereka mempunyai waktu luang untuk melakukan berbagai kegiatan. Mereka dapat lebih berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan masyarakat dan kehidupan sosial. Mereka mempunyai kesempatan yang lebih banyak melaksanakan kegiatan yang berorientasi pada masyarakat, mereka mempunyai waktu senggang yang lebih banyak dibandingkan ketika anak-anak mereka masih kecil.

III. PEMBAHASAN

A. Hubungan Antara Tipe Kepribadian, Tipe Sirkadian Dengan Sikap Terhadap Sistem Kerja Shift Rotasi

Dari beberapa teori yang telah dijelaskan dan beberapa hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap sistem kerja shift rotasi dapat bersifat negatif ataupun positif. Pekerja bersikap negatif antara lain karena sistem kerja shift rotasi menimbulkan gangguan tidur, pola makan menjadi tidak baik dan kehidupan sosial terganggu. Di sisi lain, pekerja yang bersikap positif beranggapan bahwa sistem kerja shift rotasi dapat meningkatkan pendapatan, memberikan lebih banyak waktu luang pada siang hari, memberikan lingkungan kerja yang sepi, jumlah supervisor lebih sedikit, dan dapat dijadikan sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu.

Perbedaan sikap ini ada hubungannya dengan tipe kepribadian. Pekerja yang memiliki kecenderungan extravert diduga menunjukkan sikap yang positif terhadap sistem kerja shift rotasi. Mereka lebih toleran terhadap sistem kerja shift tersebut dibandingkan dengan tipe introvert (Vidazek, dalam Harma 1993). Sebaliknya, pekerja dengan kecenderungan introvert diduga menunjukkan sikap yang negatif terhadap sistem kerja shift rotasi. Toleransi mereka terhadap sistem kerja shift tersebut lebih rendah dibandingkan tipe extravert. Oleh karena itu, sikapnya diduga cenderung negatif.

Selain tipe kepribadian, prediktor dari sikap terhadap sistem kerja shift rotasi adalah tipe sirkadian yaitu tipe siang dan tipe malam. Mereka yang termasuk tipe malam mempunyai toleransi yang lebih baik terhadap sistem kerja shift rotasi, dibandingkan dengan mereka yang termasuk tipe siang. Oleh karena itu, diduga mereka yang tergolong tipe malam memiliki sikap yang positif terhadap sistem kerja shift rotasi

Faktor demografi yang diduga dapat mempengaruhi hubungan antara sirkadian dengan sikap terhadap sistem kerja shift rotasi adalah usia. Usia mempengaruhi penyesuaian sirkadian. Pekerja shift usia 40-50 tahun, penyesuaian sirkadiannnya lebih lambat dibandingkan dengan pekerja shift yang lebih muda. Oleh karena itu diduga akan ada perbedaan hasil korelasi antara tipe sirkadian dengan sikap terhadap sistem kerja shift rotasi pada kelompok usia di bawah 40 tahun dan pada kelompok usia di atas 40 tahun sebagai akibat pengaruh faktor usia.

About these ads

5 Komentar »

  1. aamusda berkata,

    sangat2 bagus.. kebetulan saia sedang bikin kajian shift untuk kantor.. dpt banyak referensi sr artikel ini.
    makasih buat penulis, salam kenal

    • merulalia berkata,

      iya salam kenal juga..kebetulan itu tugas paper waktu kuliah dulu…
      semoga artikel yg lain juga bisa bermanfaat ya :)

  2. Andriyana berkata,

    Mkasih informasi’y

    • merulalia berkata,

      iya sama2..semoga Postingan yang lain juga bisa bermanfaat

  3. enny berkata,

    aslm..
    mba, cocok banget nih postingannya buat bahan skripsi aku heheheh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 147 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: