Agustus 18, 2017

Perjalanan Tracking 16 Jam dan Kenangan yang Tak Terlupakan di Gunung Gede (Day 1)

Posted in Journey pada 7:05 pm oleh merulalia

Apa yang kalian pikirkan tentang perjalanan 16 jam di Gunung?

Lama, capek, pegel, haus, laper.. adalah kombinasi kata yang tak bisa terhindari belum lagi di tambah sol sepatu jebol dan sedikit banyak “gangguan dari yang tak terlihat” makin menambah seru kisah tentang perjalananku mendaki kali ini. Jadi begini ceritanya…

Ceritanya lagi kangen sama Gunung Gede, efek postingan beberapa teman di sosial media. Maklum udah lama banget ga kesana, Januari 2007 terakhir kali menjejakan kaki di Gunung Gede itu pun ga pernah sampai puncak. Hanya sampai sumber air panasnya saja 😀

Nah, dengan niat sepenuh jiwa dan setulus hati pokoknya bagaimanapun juga tahun 2017 gw harus muncak di Gunung Gede (yaa dalam hati sih bilangnya gitu) tapi enaknya gimana yaa?

Awalnya setelah libur nge-trip sepanjang Puasa dan Idul Fitri (Tapi pas puasa sempat nanjak ke Gunung Andong dan Muncak di Gunung Telomoyo with Abang Ojek Super dengan Motor Jupi nya di hari yang sama) ngerencanain buat nanjak ke Gunung Gede. Tadinya mo bawa trip Pendakian Gunung Gede buat Member Backpacker Jakarta tapi ga ada yang mau jadi patnernya, atau lebih tepatnya beberapa orang yang gw tawari buat tandem jadi CP (Coordinator Person) ke Gunung Gede ga ada yang mau, dengan alasan tanggal yang gw mau ga pas sama jadwal mereka. Kebetulan saat itu gw milih tanggal di akhir Juli buat merencanakan pendakian kesana. Tanggal yang sama dengan awal gw mulai nanjak lagi 2 Tahun yang lalu.

Hari itu seperti biasa di sela-sela aktifitas di kendaraan umum, atau diantara kerjaan di kantor pastilah hampir semua orang akan melakukan hal yang sama. Yaitu cek maricek sosial media (itu juga kalo yang punya sosial media) walaupun ga ada notifikasi pasti ada aja keisengan buka aplikasi sosial media, entah buat kepoin mantan, gebetan atau cek-cek temen pada posting apa. Nah ketika gw lagi scroll beberapa postingan di Facebook gw nemulah flyer event BSMI alias Bulan Sabit Merah Indonesia ini di Wall temen gw sedari SMA(K) itu. Penampakan flyer eventnya seperti di bawah ini:

bsmi

Dari judul event nya aj udah keren banget kan yak “Fun & Edu Camp Practical” ngeliat materinya aja udah uwe uwe wow bingitsss. Acaranya pasti keren abisss… hahahhaha lebay banget yaa kata-kata gw macam anak alayers jaman sekarang. Tapi jujur dari sanubari terdalam gw suka banget ngeliat flyer acara kaya gini, jadi peserta ga cuma hiking alias nanjak gunung doang tapi dibekali materi yang sangat diperlukan terutama buat penggiat alam bebas maupun orang-orang yang suka nanjak gunung efek film 5 Cm ataupun postingan foto kekinian yang ada di Instagram. Maklum dalam 2 tahun terakhir setelah gw memutuskan buat kembali menjejakan kaki di ketinggian gw udah ketemu ratusan orang dengan berbagai macam kepribadian yang seringkali tidak menghiraukan ilmu mountenering atau basic first aid semacam ini, kebanyakan mereka nanjak gunung dengan ilmu seadanya yag penting kaki kuat nanjak dan foto pun kece buat di update di sosial media.

Oke kembali ke laptop, setelah gw liat postingan ini akhirnya gw meninggalkan jejak di wall facebook temen gw itu, alias kasih komentar. Gak berapa lama temen gw yang punya nama kaya Pasangan Gubernur terpilihnya Jakarta itu kirim japrian alias Jalur Pribadi via whatsapp. Temen gw itu ngasih Flyer sama redaksi acara lengkapnya via Whatsapp. Setelah itu gw minta tolong temen gw buat daftarin nama gw ke acara yang keren itu. Kebetulan yang mungkin sudah di rencanakan Tuhan kalo tanggal event itu pas banget sama tanggal yang gw mau buat pendakian ke Gunung Gede.

Selang beberapa hari kemudian gw di invite ke Grup Whatsapp acara itu, agak keki dikit juga sih secara di grup itu gw Cuma kenal 1 orang aja, ya temen gw itu, lainnya ga ada yang gw kenal. Itu sama aja gw kembali lagi ke jaman awal gw masuk BPJ nyobain tripnya dengan orang-orang yang ga gw kenal. Maklum aja setahun terakhir ini gw lebih sering nanjak sama orang yang gw kenal, bukan saja demi kenyamanan perjalanan tapi juga permasalahan gw yang pendaki siput ini, alias jalan kaki nya lambat jadi kalo ada temennya, ada yang jalan bareng sama gw selambat apapun kaki gw melangkah.Tapi ga masalah toh temen gw ini juga bukan hikers yang doyan nanjak gunung dan bukan tipe penyuka olahraga jadi bisa ketakar lah kecepatan dia kira-kira seberapa.

Setelah itu coba kepoin jalur pendakian Gunung Gede via Si Mbah Google. Jarang banget gw ngelakuin hal ini kalo lagi ikut trip Pendakian bareng BPJ karena gw udah biasa sama metode perjalanan ala BPJ tapi ini kan beda, jadi gw harus lebih prepare buat diri gw sendiri terutama baik itu fisik, pengetahuan jalur terutama perbekalan yang bakalan gw bawa. Dan tentu saja nanya sana sini di grup Ex-Trip Pendakian tentang rupa jalur, waktu tempuh, sumber air, dan cuaca jadi gw tahu pasti apa aja yang bakalan gw bawa itu ada manfaatnya ga. Jaket apa yang harus gw pake disana, The North Face kah atau Uniqlo (hahhaha.. pamer banget yak tukang pake jaket mahal) atau jaket seadanya aj cukup yang penting bisa nahan angin dan dingin.

Di dalam grup itu juga ada materi singkat tentang Carrier loh, tentang strap-strap dan bagian yang ada di carrier dan fungsinya untuk apa juga materi lainnya yang bermanfaat banget buat bekal perjalanan terutama buat pendaki pemula, karena dari obrolan yang ada di gru kayaknya banyak pendaki pemula terutama di Akhwat alias wanita nya. 2 Minggu sebelum pendakian pihak panitia membagi peserta kedalam beberapa grup kecil yang gunanya buat ngelengkapin peralatan pendakian yang di perlukan. Dan wakwawww, pembagian kelompoknya dibagi berdasarkan laki-laki dan perempuan juga (mateeelaah gw) gw yang di setiap pendakian sangat merasa ketergantungan terhadap pria-pria perkasa yang kuat gendong “kulkas dua pintu” dan bawa tenda dengan kisaran beban 3 – 5 Kg ini kebagian kelompok yang isinya ciwi-ciwi sholehah berhijab. Maklum aja gw pengguna carrier dengan volume 38 liter ini (Pasti ada yang bisa nebak merek nya apaan) punya sedikit masalah kalo harus gendong bawaan yang lumayan berat, biasanya isi carrier gw hanya keperluan pribadi dan sedikit logistik saja, tapi kali ini …… hhhhmmmm…

Di Akhwat nya hanya di bagi 2 kelompok saja dengan jumlah sebanyak 4 orang di setiap kelompoknya. Dan temen gw yang akhirnya masukin nama-nama anggota kelompok gw itu menjadi 1 grup kecil (saat itu lgw lagi sibuk ngurusin event BPJ jadi lagi ga fokus sama grup lain) yang gunanya buat koordinasi perlengkapan. Oke berhubung anggota kelompok gw itu cewek semua jadi gw terapin standar keamanan pendakian khusus wanita biar cewek-cewek di kelompok gw ini bisa kuat mandiri tanpa bantuan laki-laki (hahahhahaha.. lebay mode: on). Berhubung di kelompok ini yang gw kenal cuma teman gw itu seorang jadi gw (anggap saja orang yang lebih sering hiking dalam setahun terakhir) menerapkan pola yang di terapkan untuk pendaki pemula. Tahap pertama: tanya ke peserta kelompok mereka sudah pernah mendaki kemana saja, dan jawabannya 2 dari 3 orang pernah mendaki ke papandayan sedangkan 1 lagi belum pernah. Tahap kedua: Bikin list perbekalan kelompok dan perlengkapan pribadi, nah di tahap perlengkapan pribadi ini gw menambahkan beberapa item seperti Emergency Blanket yang ga masuk list dari panitia, gunanya karena ini kelompok semua perempuan jadi gw lebih prepare mereka ke cuaca yang dingin. Menurut info dari salah satu temen gw yang suhu gunung itu alun-alun Surya Kencana adalah tempat yang lumayan dingin karena posisinya di lembah yang diapit oleh dua gunung, gw coba nanya dengan membandingkan dengan beberapa gunung yang pernah gw jejakan biar punya gambaran kira-kira seberapa dingin nge-Camp di Alun-alun Surya Kencana.

Beberapa hari berlalu tapi list perlengkapan kelompok gw ga juga full. Buat gw sebenarnya ga ada masalah sih karena semua perlengkapan kelompok itu gw punya semua. Cuma sedikit bermasalah sama tenda saja, karena tenda yang gw punya cuma kapasitas 2 orang sedangkan kelompok gw 4 orang, jadi gw harus minjam sama teman gw di komunitas lain yang kira-kira tanggal segitu tendanya lagi nganggur ga kepake. Tadinya gw mo bawa 1 tenda kapasitas 4P, tapi tenda yang biasa gw pake itu lagi jaln-jalan alias lagi ga di pegang sama si empunya nya jadi gw cari alternatif pinjaman tenda lain karena kebanyakan teman gw di grup BPJ #16 itu punyanya tenda kapasitas 2P tadi mau ga mau gw akhirnya bawa 2 buah tenda Kapasitas 2P. Lumayan berat juga yak, rata-rata tenda kapasitas 2P beratnya antara 2 – 3 Kg tergantung merek tendanya.\

Dan hari yang di tunggu itu pun tiba. Jum’at 28 Juli 2017 itu pun datang. Setelah malamnya menyiapkan perlengkapan pribadi dan kelompok, tapi belum di packing ke dalam carrier karena tenda pinjamannya sedikit kotor jadi harus dibersihkan lebih dulu. Pulang kerja jam 18.00 dari kantor sengaja naik Ojek Online biar lebih cepat sampai di rumah. Maklum jarak dari kantor ke rumah adalah jalur yang macetnya susah diprediksi. Jam 19.15 sampai di rumah buru-buru packing masukkan semuanya kedalam carrier (Duh empritku sayang maaf yah kamu aku siksa begini sampai overload dan bawannya berat begini) perlengkapan pribadi 2 set pakaian, 3 jaket (2 Uniqlo + 1 TNF ga tau kayaknya hawa disana bakalan dingin dan pasti hujan jadi prepare saja), Perlengkapan kelompok seperti Nesting, Kompor, Gas, 2 Tenda Kapasitas 2P (Frame tenda sengaja di taruh di samping carrier di coba buat di masukkan semuanya ke dalam carrier. Tapi sungguh disayangkan, karena kapasitas carrier kesayangan gw itu cuma 38 liter ga semua barang-barang itu bisa masuk semuanya. Sisa 1 tenda lagi yang ga bisa masuk ke dalam carrier, itu aja belum masukin air minum juga. Iseng chat di grupnya,

“Boleh titip tenda ga?, udah di packing jadinya kecil koq, paling seukuran gulungan jaket”

Dan zonk %#%$#%#@$^%& ga ada yang bales atau merespon di grupnya. Aku sedih, aku ga terima kalo aku diginiin, kalian semua jehong sama aku.

Ya udahlah mo gimana lagi semoga ada lelaki baik hati dan tidak sombong yang berkenan membantu di detik-detik terakhir. Udah jam 20.00 sekarang waktunya mandi setelah itu makan malam baru nanti jam 20.40 berangkat menuju Meeting Point di Apotek Kimia Farma Depok.

Waktu menunjukkan jam 20.45, langsung order ojek online buat nganterin ke lokasi meeting point, ini carrier lumayan berat juga yaa, masih harus bawa tentengan sepatu sama tenda yang tentu saja ga muat masuk ke carrier. Sekitar 30 menit perjalanan dari Ciracas menuju Jalan Margonda dan jam 21.15 sampai di meeting point. Menunggu sendirian karena temen gw itu masih di perjalanan, yo wis lah aku ora opo-opo sudah terbiasa menunggu seorang diri, seperti menunggu jodoh yang tak kunjung tiba (curhat mode:on). Sendirian duduk di samping Apotek Kimia Farma sambil mikir kira-kira ada ga ya Ikhwan yang mo bantuin bawain tenda sama frame nya ini, lumayan berat soalnya kalo harus dibawa sendiri. Dan semakin berat beban bawaan yang dibawa mungkin bisa berbanding lurus dengan kecepatan jalan di jalur nantinya. Sekitar 15 menit kemudian temen gw itu dateng dan beberapa peserta lainnya dan gw envy banget ngeliat carrier mereka pada “unyu-unyu” alias pada imut-imut karena beberapa gw liat yang pria-pria rata-rata bawa carrier kisaran 30-40 liter ada juga yang malahan bawa daypack atau tas yang biasa mereka gunakan kerja, sedangkan gw, kasihan ini emprit gw disiksa seperti ini dengan isi yang maksimal. Yang ada di pikiran gw saat itu adalah coba gw bawa “asisten” gw, setidaknya dia bisa bawain tenda gw jadi carrier gw ga over capacity kaya gini.

Ohh iya, di peserta akhwat kelompok lain gw liat ada yang bawa carrier ukuran yang sangat besar tapi packingnya ga maksimal, jadi gw bantuin akhwat itu buat packing ulang. Ya lumayan bikin ketawa juga sih sebenernya isinya ga banyak tapi karena rata-rata barang bawaannya itu volumenya lumayan besar jadi dengan carrier kapasitas besar pun udah full walaupun barang bawaannya ga banyak. Ternyata banyak orang juga yang dikenal sama temen gw itu, ya udah langsung gw bilang aja. Cariin orang yang mau bawain barang kelompok kita kalo lu ga mau bawa, kalu ga lu tidur diluar tenda.Dan dengan tampang sedikit memelas akhirnya ada “korban yang berhasil tercyduc” (ala lambe turah) dan ga cuma satu tapi 2 ikhwan sekaligus yang berbaik hati bersedia bantuin kami akhwat-akhwat yang katanya lemah tak berdaya ini (hahahahahhaha….). Satu orang namanya pak Edhi, beliau bersedia bawain 2 frame tenda kelompok gw, dan satu lagi namanya pak Agus, beliau penanggung jawab acara ini yang bersedia

Waktu menunjukkan pukul 22.00 tapi anggota kelompok gw satu lagi belum juga keliatan penampakannya, katanya rumahnya di cengkareng (jauh juga yak dari barat ke Depok) pas gw japri posisinya lagi di Commuter Line udah sampai Stasiun Tanjung Barat, dikit lagi lah. Sekitar pukul 22.30 acara pelepasan Kontingen Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Depok pun siap di mulai. Acara pelepasan ini di hadiri oleh Ketua BSMI Depok, kurang lebih penampakannya kaya gini.

bsmi 1

Gambar 2: Panitia Kegiatan

bsmi 2

Gambar 3: Peserta Kegiatan

bsmi 3

Gambar 4: Foto Bersama Sebelum Berangkat

Setelah itu kami pun bersiap berangkat, yang Ikhwan dengan kendaraan tronton dan yang akhwat dengan mobil pribadi (Lumayan lah bisa bobo-bobo cantik di perjalanan). Sekitar 3 Jam kami tiba di Desa Gunung Putri, awal pendakian ini akan dimulai.

Yang ada dipikiran gw saat gw masuk ke mobil itu adalah bagaimanapun caranya gw harus tidur, di perjalanan Depok ke Cipanas gw harus maksimalin buat tidur. Karena sehari sebelumnya gw Cuma tidur sekitar 4 jam aja. Dengan sesekali kebangun buat benerin posisi tidur dan coba buat terus tidur di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba gw kebangun dan posisi kami sudah sampai di Cipanas ga jauh dari Istana Cipanas, ya walaupun gelap gw lumayan kenal daerah itu karena beberapa kali ngelewatin daerah itu kalo pas tugas kantor. Setelah itu gw ga bisa tidur lagi sampai kami tiba di Desa Gunung Putri, yaitu gerbang dimana petualangan kami akan dimulai.

Saat itu waktu menunjukkan jam 03.30 banyak sekali pendaki yang mulai berdatangan baik itu dengan kendaraan pribadi (motor atau mobil) maupun angkot charteran. Mendadak gw keinget sama scene di Film 5 Cm saat 5 Sahabat itu tiba di Ranu Pani, ya kurang lebih adegannya seperti itu. Sekitar pukul 4.30 kami mulai perjalanan menuju Pos GPO atau Gede Pangrango Operation untuk melapor. FYI ya gaes buat kalian yang ingin mendaki Gunung Gede atau Pangrango di harapkan menggunakan jalur resmi dan sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang di terapkan oleh pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, jadi kalo sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak di inginkan (ya semua orang berharap pasti semua akan baik-baik saja) para Green Ranger siap membantu kalian.

Sampai di pos GPO untk melapor kami istirahat sejenak untuk Sholat Shubuh berjamaah setelah itu sekitar puluh 05.10 kami melanjutkan perjalanan ke Pos 1. Sesampainya di Pos 1 cuaca mendung dan sedikit gerimis kami beristirahat lagi untuk sarapan ala kadarnya dan preparation penanjakan di karenakan ada beberapa peserta yang belum pernah sama sekali mendaki gunung. Saat beristirahat gw ketemu sama Bang Sulham, suhu tektok yang gw rasa itu kakinya dari besi. Bang Sulham tracking sama beberapa personil Tektok Team, ya sekedar intermezzo Team Tektok adalah para pendaki gunung yang melakukan pendakian secara cepat dan tepat, diupayakan tidak camp. Tapi bukan berarti sembarangan mendaki, di team tektok akan di latih manajemen pendakian sehingga mereka bisa mengefisiensikan tenaga yang ada pada saat perjalanan. Oke lanjut lagi ke Tim BSMI, jam 06.30 kami memulai pendakian dengan formasi 3 kelompok Ikhwan berjalan lebih dahulu dan 2 kelompok akhwat menyusul kemudian di belakang kami ada beberapa orang dari BSMI sebagai sweeper atau tim sapu bersih. Trus posisi gw sebelah  mana? Ya pastilah bagian paling belakang lah, di dua pendakian gunung 3000an terakhir gw memutuskan untuk jadi sweeper karena gw juga ga bisa jalan cepet-cepet dan enaknya tim sweeper tuh ritme kaki lebih nyaman dan banyak istirahatnya.

Berdasarkan pengalaman beberapa teman Jalur Gunung Gede Via Gunung Putri katanya jalurnya “begitu doang” paling jalannya jadi licin kalo hujan karna jalurnya tanah di tengah hutan. Berdasarkan hasil nanya mba google setelah Pos I kita akan melewati jalur yang menanjak sampai ke Alun-alun Surya Kencana. Well kalo jalurnya tanah gw pikir ga cape-cape amat lah. Di pendakian gw kali ini bener-bener jalannya santai bener tapi bukan berarti gw ga punya itinerary, gw udah siapin itinerary yang gw ambil dari salah satu open trip yang biasanya sudah di sesuaikan dengan kecepatan pendaki siput kaya gw. Berdasarkan prediksi waktu tempuh dari Pos GPO sampai alun-alun surya kencana sekitar 6 – 8 Jam yang mungkin lebih lama karena perjalanan gw lumayan santai. Gw sih berharap ga seperti pendakian gw ke Gunung Lawu via Candi Cetho yang memakan waktu sampai hampir 12 jam.

Sampai di Pos berapa yaa gw juga lupa, oemji baru kali ini gw sama sekali ga nyatet waktu tempuh dari satu pos ke pos lainnya. Saat itu kira-kira jam 12 lewat kami berhenti di pos itu dan istirahat lumayan lama. Ada yang memilih untuk tidur atau buka kompor untuk memasak mi instan. Di pos itu lumayan banyak pendaki yang memilih untuk rehat sejenak diantara pendaki itu ada “bule” yang pakai carrier “rubah bobok”, itu pasti bule mo ikutan event Fjallraven Booth Camp yang memang kebetulan berbarengan sama perjalanan kami, ada juga artis Sahrul Gunawan dan beberapa orang temannya diantara pendaki hari itu. Setelah kira-kira 30 menit istirahat kami pun melanjutkan perjalanan sudah hampir 6 jam perjalanan tanda-tanda penampakkan Alun-alun Surya Kencana tidak juga nampak, bahkan aroma semerbak edelweiss pun serasa masih jauh di ujung sana. Beberapa orang dari peserta pun sudah mulai kelelahan, nampak dari ritme kaki yang mulai pelan dari sebelumnya, bahkan ada peserta yang sudah mulai tak kuasa menahan beban di pundaknya, alias udah ga kuat gendok carrier nya, sehingga carriernya harus di titipkan ke Pria paling-paling lah pokoknya. Sesosok pria yang merangkap 3 jabatan sekaligus, Ketua Pelaksana, sweeper, sekaligus porter. Mangstabb khannn… khan maen dah pokoknya.

Di tengah perjalanan sekitar jam 14.00 tiba-tiba cuaca mulai memburuk, tetesan air dari langit pun mulai turun awalnya gw pikir itu cuma tetesan kabut aja tapi lama-kelamaan airnya mulai dateng keroyokan dan deras lalu jadilah hujan air (ya iyalah kalo ujan salju mah adanya di Cartenz). Lalu kami empat pejuang terakhir tim ini (Gue, Lidya, Pak Agus dan Pak ruly) bikin bivak pake flysheet yang bisa melindungi kami dari derasnya air hujan jadi ga kebasahan deh 😀

Tapi gimana kabarnya nise yang jalan ga bawa apa-apa, Cuma bawa badan doang. Doh, jadi khawatir kan gw. Mo nyusul juga ga mungkin karena gw juga udah mulai capek dan pundak udah mulai terasa pegel efek muatan carrier yang over capacity. Akhirnya pak Agus menembus hujan main basah-basahan nyusulin nise ke atas, bawain jas hujan sama sesuatu yang dimakan/diminum. Sedangkan gw, lidya, dan pak Ruly nungguin hujan reda sambil nyemilin wafer dari pendaki lain yang lagi piknik keluarga. Sekitar 15 menit kemudian pak Agus kembali ke bivak. Tak lama kemudian hujan pun reda kami berempat pun kembali melanjutkan perjalanan. Dan disinilah kesabaran gw mulai diuji sebagai seorang sweeper, tahu itu apa? Konsisten untuk tetep jalan di belakang, padahal kalo nemuin jalan lumayan landai bawaannya pengen lari atau jalan secepat-cepatnya. Tapi gw ga boleh kaya gitu, barengan sama gw ada 2 orang yang udah mulai kelelahan dan gw harus mengimbangi langkah mereka. Terutama lidya yang kelihatannya baru kali ini hiking dan bener-bener kelihatan udah payah banget, gw cuma bisa bantu ngaih semangat aja, ga mungkin bawain carriernya karna gw aja udah kepayahan bawa carrier gw sendiri. Sesekali gw biarin lidya jalan di depan gw, dengan ritme 5 – 10 langkah rest 1 menit ga boleh lama-lama nanti yang ada ga nyampe-nyampe di Alun-alun Surya Kencana sebisa mungkin jam 17.00 udah sampai di camp.

Sesampainya di pos terakhir sebelum Alun-alun Surya Kencana kami bertiga istirahat yang agak lama. Gw kasih waktu sekitar 10 menit buat istirahat di Pos itu, kenapa Cuma bertiga karena pak Agus gak tahu dimana, kayaknya sih masih di belakang tapi ga keliatan padahal kami bertiga jalan udah lumayan pelan dan banyak rest. Istirahat sambil nyemil dan foto-foto wefie bertiga. You Know gaes salah satu obat pengurang rasa lelah ketika mendaki adalah berfoto-foto loh, ga percaya? Cobain aja 😀

Setelah ketemu sama pak Agus di Pos itu kami bertiga melanjutkan perjalanan. Kali ini track yang di lalui tanjakan yang lumayan lebih berat dari sebelumnya. Dan akhirnya kesabaran gw saat itu sepertinya sudah benar-benar habis. Terpaksa gw jalan duluan ninggalin lidya yang udah kepayahan sama pak Ruli, karena gw udah ngerasa bener-bener capek dan yang ada di otak gw Cuma gimana caranya gw sampe di camp dan istirahat disana rebahan karena pasti udah ada yang diriin tenda. Gw jalan sendirian dengan sisa tenaga yang ada dengan kaki ngilu dan pundak pegel yang gw coba nahan, ga lama abis tanjakan yang lumayan itu ada jalur landai lumayan panjang, tadinya gw kepikiran buat lari tapi ternyata udah ga kuat jadinya cuma jalan cepet aja. Clue dari pak Agus kalo udah sampai Alun-alun Surya Kencana belok kanan cari aja bendera BSMI disanalah camp area nya.

Sampai di Alun-alun Surya Kencana ada warung, beberapa pendaki banyak yang istirahat disana tadinya sempet kepikiran mo istirahat di salah satu warung tenda itu, tapi ternyata warung itu tidak terlalu menggiurkan daripada warungnya mbok yem (hahahha.. hellow lo lagi di Gede bukan di Lawu jadi ga mungkin ada warung Mbok Yem disana, kecuali si Mbok Yem mo buka cabang di Gede). Okeh setelah itu gw langsung belok kanan nyari tanda bendera BSMI diantara puluhan tenda-tenda yang ada disana. Dan sialnya kabut turun dan tebel banget jarak pandang cuma 5 meter dan lumayan dingin pula. Dan sepertinya camp areanya ga ada di deket-deket warung. FYI gaes gw baru edisi perdana ke Alun-alun Surya Kencana dan lo pasti bisa ngerasain gimana jadi gw saat itu, sendirian, bingung, ga bisa liat apa-apa karena kabut tebel banget, sampe akhirnya gw memutuskan buat menggunakan semua insting, felling dan perasaan gw yang terdalam (koq jadi bawa perasaan sih ntar baper loh), buat nebak kira-kira camp areanya ada dimana. Gw nyoba buat ngikutin jalan setapak lurus terus setelah belok kanan itu, banyak pendaki juga yang jalan ke arah sana jadi gw rasa gw tidak sedang berada di alam lain ataupun kemungkinan nyasar. Ga lama hujan turun lagi lumayan deras, tadinya gw mo pake payung aja, toh jalannya juga udah landai, tapi ga jadi deng, pake jas hujan aja takutnya nanti angin kenceng.

Jalan sendirian kaya orang bener di tengah kabut ga tau sama sekali itu didepan sana ada apaan, ga ngeliat ada tenda. Tadinya gw sempet kepikiran pengen balik ke warung di gerbang surken itu dan nunggu pak Agus dll disana, tapi kayaknya gw jalan udah sekilo lebih yang ada nanti gw malah ngabisin sisa tenaga gw. Yang ada di pikiran gw cuma takut nyasar atau kebawa ke alam lain, sampai gw ketemu seorang pendaki yang bawa beberapa botol air mineral kosong bertanya ke gw. Mba, sumber mata air masih jauh ya?

Gw jawab. Ga tau ya Mas, soalnya ga bisa keliatan apa-apa.

Dan disitulah gw mikir kalo jalan yang gw lalui benar, arah ke mata air. Ketika gw bisa ngeliat beberapa tenda gw teriak sekenceng-kencengnya manggil nama Nise tapi ga ada balasan suara. Gw jalan terus sampe kira-kira mentok di jalur yang gw lewatin trus ada pendaki lewat ya udah lah gw tanya, Mas kalo lurus kesana jalurnya kemana ya?

“Ohh itu jalur ke arah Salabintana”, jawab pendaki itu.

Zonk.. nge blank langsung deh gw, berasa gw jalan di jalur yang salah.

Terus gw tanya lagi. “Kalo mata airnya sebelah mana ya?”

“Itu udah deket koq, emang mba nya tadi lewat jalur mana?”

“Saya lewat putri tapi besok mo turun via Bodas. Ini lagi nyari temen nge camp nya dimana.”

“Sama saya juga besok turun via Cibodas, apa mo barengan aja?”

“Ga usah mas saya mo nyari temen saya dulu. Makasih ya”

“Iya mba sama-sama”

Dan mas-mas itu pun menghilang di balik kabut. Sempat kabut mereda dan jarak pandang lebih luas gw jalan menuju tempat tertinggi di dekat situ buat nyariin tanda-tanda bendera BSMI tapi ga juga ada hasilnya, teriak-teriak manggil nama nise atau BSMI malahan dapet feedback suara yang bilang “berisik”. Helow.. emangnya gw mau teriak-teriak ga jelas kaya gini (ngomong dalam hati gitu). Yang ada di pikiran gw sekarang adalah gw harus bisa nemuin campnya dimana sampe batas gelap. Kalo ga ketemu juga pas gelap ya terpaksa gw ngetok tenda sembarang buat numpang tidur. Atau gw nyari dahan pohon dan bikin bivak atau bikin tenda ala kelambu. Karena gw bawa tenda tapi frame nya di tas orang lain. Gw bawa kompor lengkap dengan gas dan nesting juga logistik cukup untuk 3 kali makan, jadi kalo gw numpang di tenda orang gw ga akan nyusahin mereka. Di saat udah kelelahan fisik, laper tingkat tinggi otak gw udah mulai halu dan mikirin macem-macem, seandainya begini, seandainya begitu. Sempet kepikiran juga buat nunggu di deket mata air, berharap salah seorang pengguna syal merah BSMI lewat buat ngambil air tapi begitu gw liat jam udah jam 17.30 udah hampir gelap dan ternyata udah hampir 2 jam gw monda-mandir sendirian kaya orang kehilangan induk semang di Alun-alun Surken ini. Gw ga nyangka kalo surken seluas ini. Mirip Cikasur tapi jalurnya lumayan membantu pendaki kesepian mavam gw sekarang. Gw jalan lagi buat nyusurin tenda-tenda disitu sampai akhirnya gw ngeliat sosok pak Agus di Jalur. Thanks God, gw ga jadi nyasar ataupun ngetok tenda orang karena udah ketemu lagi sama pak Agus. Dibelakangnya ada lidya yang udah capek banget dan basah kuyup juga ada pak ruly yang bawain carriernya lidya. Jadi sedikit curhat sama pak Agus kalo gw udah 2 jam keliling disini tapi ga juga nemuin bendera BSMI ada dimana, udah teriak-teriak tapi ga ada feedback. Setelah itu gw sama pak Agus teriak-teriak lagi nyariin rombongan kami yang lain sampe akhirnya ada yang denger dan kasih sinyal lewat senter dan kami berempat pun menuju camp.

Sampai di camp ternyata semua yang gw pikirin selama gw di trek sendiri itu pun sirnalah sudah. Akhwatnya ternyata ngumpul di satu tenda kapasitas 2P. Ada 6 orang disana yang 3 sedang sibuk memasak. Oemji akhwatnya pada umpel-umpelan dalam 1 tenda. Gw mo masuk pun bingung itu tenda Cuma Kap.2 tapi gw kudu ganti baju karena sinusitis udah kambuh parah, udah migren, area frontalis dan maksilaris berasa banget bengkaknya, laper. Maksimal banget dah pokoknya. Dan disaat itulah gw udah hampir nangis ga kuat nahan dingin. Dan ternyata nise juga ga tau sekarang ada dimana, dokter etika, termasuk pak edhi yang bawain frame tenda gw juga ga tau ada dimana. Setelah itu gw gantian sama lidya ganti baju, karena baju yang kami pakai udah basah kuyup banget jadi harus ganti baju yang kering biar ga terserang hypotermia. Setelah ganti baju migren gw makin merajalela, gw butuh asam mefenamat buat ngurangin rasa sakitnya, tapi di kelompok akhwat ga ada yang bawa. Baru kali itu memang gw sama sekali ga bawa kotak obat, karena gw pikir gw jalan sama orang yang udah expert di bidangnya jadi gw ga perlu bawa obat oral. Obat-obatan yang gw bawa Cuma krim analgetik, elastic band sama kinesio tape yang emang gw butuhin secara pribadi buat lutut gw.

Setelah ganti baju gw makan apapun yang udah selesai dimasak sama akhwat yang lain sambil nahan nyeri nya di kepala. Walaupun akhwatnya pada umpel-umpelan di tenda. Padahal pengen banget rasanya rebahahan tapi ga bisa (hiks…hiks..). Setelah lauk nya matang, atiah bawain nasi liwet dari Ikhwannya, ya sudahlah di nikmatin saja hidangan yang luar biasa ini. Sesudah makan jadi mikirin strategi gimana akhwatnya bisa istirahat. Karena tendanya cuma ada 1 itu pun kapasitas 2P. Karena akhwatnya lumayan mungil bisa di bikin 4 orang tapi semua carriernya harus di taruh di luar. Gak lama kemudian pak Agus memutuskan buat nyari nise, pak Bowo, Dokter Etika, Pak Edhi, Ustadz Jailan yang ga tau sekarang dimana posisinya. Trus gw ngapain? Gw jagain tendanya pak agus aja sambil rebahan karena udah ga kuat banget nahan migren kalo sinus lagi kambuh kaya gini. Pak agus di temenin Atiah sama siapa lagi yang gw kurang tahu nyari tim kami itu ke arah warung di gerbang Surken. Di Tendanya pak Agus gw nemuin kotak obat dan beruntung banget di kotak obat itu ada Asam Mefenamat, langsung aja gw telen obat itu dan akhirnya tidur sambil nunggu pak Agus dan yang lainnya. Sekitar jam 22.00 mereka semua berhasil ditemukan, akhirnya semua tim lengkap sudah ada di Camp walaupun kondisi mereka juga tidak baik karena kehujanan dan basah kuyup. Untung hujan sudah mulai reda dan tenda gw pun bisa di pasang karena udah ketemu sama framenya. Dikarenakan area yang terbatas gw cuma bisa pasang 1 tenda aja buat kami berempat. Gw, nise, dokter etika dan atiah. Tenda kapasitas 2P diisi 4 orang, ya kaya gitu deh jadinya.

Jadi waktu perjalanan gw dari Pos GPO samapai ke Alun-alun Surya Kencana Sekitar 13 Jam. Waktu yang lumayan sangat lama, sedangkan beberapa teman gw membutuhkan waktu 6 jam saja buat sampai kesini. Dan sekarang waktnya gw buat manfaatin waktu tidur sebaik-baiknya karena besok pagi perjalanan panjang dimulai lagi.

 

To be Continued  ………

Iklan

Januari 27, 2016

Uang Elektronik (E-Money)

Posted in Ekonomi dan Manajemen pada 2:32 pm oleh merulalia

Pengertian Uang Elektronik

            Electronic money (e-money) menurut Peraturan Bank Indonesia No. 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit.
  2. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip.
  3. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut.
  4. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan.

Menurut Hidayati (2006: 4) pengertian e-money mengacu pada definisi yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS) dalam salah satu publikasinya pada bulan Oktober 1996 mendefinisikan uang elektronik sebagai “stored value or prepaid products in which a record of the funds or value available to a consumer is stored on an electronic device in the consumer’s possession” (produk stored-value atau prepaid dimana sejumlah uang disimpan dalm suatu media elektronis yang dimiliki seseorang).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa nilai uang dalam e-money akan berkurang pada saat konsumen menggunakannya untuk pembayaran. Disamping itu e-money yang dimaksudkan disini berbeda dengan “single-purpose prepaid card” lainnya seperti kartu telepon, sebab e-money yang dimaksudkan disini dapat digunakan untuk berbagai macam jenis pembayaran (multipurposed).

Menurut Waspada (2012: 1) electronic money (e-money) adalah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit, dimana nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media atau server yang digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang. Kelebihan e-money memberikan kelebihan dibandingkan dengan alat transaksi lainnya. Khususnya untuk ritel, transaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan murah, sehingga di masa depan e-money memiliki potensi untuk menggeser peran uang tunai untuk transaksi-transaksi tersebut.

Menurut Adiyanti (2015: 2) uang elektronik adalah uang yang digunakan dalam transaksi internet dengan cara elektronik. Biasanya, transaksi ini melibatkan penggunaan jaringan komputer. Uang elektronik memiliki nilai tersimpan (stored-value) atau prabayar (prepaid) dimana sejumlah nilai uang disimpan dalam suati media elektronis yang dimiliki seseorang. Nilai uang dala e-money akan berkurang pada saat konsumen menggunakan untuk pembayaran.

Menurut Kim, Lee, dan Shin (2013: 2) electronic money is used with the concept of “performing money functions with electronic equipment.” [2]. Further, it is “value information that is described with a digital signal that a bank sends to guarantee face value.” [3]. It is defined as “money that is provided to the issuer in advance; a certain monetary value is saved in an IC chip or a computer communication network built in a plastic card to be used in the information communication network.” [4]. Electronic money is used in various forms.

Menurut Rivai (2001: 1367) uang elektronik adalah alat bayar elektronik yang diperoleh dengan menyetorkan terlebih dahulu sejumlah uang kepada penerbit, baik secara langsung, maupun melalui agen-agen penerbit, atau dengan pendebitan rekening di Bank, dan nilai uang tersebut dimasukan menjadi nilai uang dalam media uang elektronik, yang dinyatakan dalam satuan Rupiah, yang digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran dengan cara mengurangi secara langsung nilai uang pada media uang elektronik tersebut.

Uang Elektronik adalah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit. Uang elektronik digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media server atau chip, serta dapat dipindahkan untuk kepentingan transaksi pembayaran dan/atau transfer dana. Nilai uang ini bukanlah merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan, sehingga tidak diberikan bunga dan tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Uang elektronik lebih merupakan pengalihan bentuk dari uang tunai.

E-money yang dimaksudkan disini juga berbeda dengan alat pembayaran elektronis berbasis kartu lainnya seperti kartu kredit dan kartu debet. Kartu kredit dan kartu debet bukan merupakan “prepaid products” melainkan “access products”. Secara umum perbedaan karakteristik antara “prepaid product” dan “access product” adalah:

  1. Prepaid Product (E- Money)
    1. Nilai uang telah tercatat dalam instrumen e-money, atau sering disebut dengan stored value.
    2. Dana yang tercatat dalam e-money sepenuhnya berada dalam penguasaan konsumen.
    3. Pada saat transaksi, perpindahan dana dalam bentuk electronic value dari kartu e-money milik konsumen kepada terminal merchant dapat dilakukan secara off-line. Dalam hal ini verifikasi cukup dilakukan pada level merchant (point of sale), tanpa harus on-line ke computer issuer.
  2.  Access Product (Kartu Debet dan Kartu Kredit)
    1. Tidak ada pencatatan dana pada instrumen kartu.
    2. Dana sepenuhnya berada dalam pengelolaan bank, sepanjang belum ada otorisasi dari nasabah untuk melakukan pembayaran.
    3. Pada saat transaksi, instrumen kartu digunakan untuk melakukan akses secara on-line ke komputer issuer untuk mendapatkan otorisasi melakukan pembayaran atas beban rekening nasabah, baik berupa rekening simpanan (kartu debet) maupun rekening pinjaman (kartu kredit). Setelah di-otorisasi oleh issuer, rekening nasabah kemudian akan langsung didebet. Dengan demikian pembayaran dengan menggunakan kartu kredit dan kartu debet mensyaratkan adanya komunikasi on-line ke komputer issuer.

     

    Bank Indonesia menerbitkan uang elektronik pertama kali di bulan April 2007. Selama kurang lebih satu setengah tahun sejak pertama terbit jumlah uang elektronik telah mencapai 430,000. Berbeda pada awal penerbitannya, uang elektronik saat ini tidak hanya diterbitkan dalam bentuk chip yang tertanam pada kartu atau media lainnya (chip based), namun juga telah diterbitkan dalam media lain yaitu suatu media yang saat digunakan untuk bertransaksi akan terkoneksi terlebih dulu dengan server penerbit (server based). Begitu pula dari sisi penggunaannya, hampir dari seluruh uang elektronik yang diterbitkan tidak lagi bersifat single purpose namun sudah multi purpose sehingga dapat diterima di banyak merchant yang berbeda. (Bank Indonesia: 2008)

    Aktivitas penggunaan uang elektronik pada tahun 2008 mencapai 2,5 juta transaksi atau meningkat 77,1% dari tahun sebelumnya dengan nilai transaksi sebesar Rp.76,7 miliar atau meningkat 93,1% dari tahun sebelumnya. (Bank Indonesia: 2008)

    Sebagai alat pembayaran, perolehan dan penggunaan uang elektronik pun cukup mudah. Calon pemegang hanya perlu menyetorkan sejumlah uang kepada penerbit atau melalui agen-agen penerbit dan nilai uang tersebut secara digital disimpan dalam media uang elektronik. Untuk chip based, pemegang dapat bertransaksi secara off-line melalui uang elektronik (dalam bentuk kartu atau bentuk lainnya). Sedangkan pada server based, pemegang akan diberi sarana untuk mengakses “virtual account” melalui handphone (sms), kartu akses, atau sarana lainnya, sehingga transaksi diproses secara on-line. Transaksi melalui uang elektronik khususnya transaksi yang diproses secara off-line sangat cepat hanya memerlukan waktu kurang lebih 2 – 4 detik. Saat ini nilai uang yang dapat disimpan dalam uang elektronik dibatasi tidak lebih dari Rp.1 juta, karena fungsinya memang ditujukan sebagai alat pembayaran untuk transaksi yang bernilai kecil. Namun batasan tersebut nantinya dapat saja disesuaikan dengan melihat perkembangan dan kebutuhan industri. Dalam mekanisme uang elektronik, apabila pemegang tidak lagi berminat menggunakan uang elektronik atau ingin mengakhiri penggunaan uang elektronik, nilai uang yang ada pada uang elektronik dapat di-redeem sesuai tata cara yang diatur oleh masing-masing penerbit. (Bank Indonesia: 2008)

 

Manfaat Uang Elektronik

Tim Inisiatif Bank Indonesia (2006:1) mengungkapkan dalam perekonomian modern lalu lintas pertukaran barang dan jasa sudah sedemikian cepatnya sehingga memerlukan dukungan tersedianya sistim pembayaran yang handal yang memungkinkan dilakukannya pembayaran secara lebih cepat, efisien, dan aman. Penggunaan uang cash sebagai alat pembayaran dirasakan mulai menimbulkan masalah, terutama tingginya biaya cash handling dan rendahnya velocity of money.

Sistim pembayaran mikro mengalami perkembangan cukup pesat diberbagai Negara dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan mesyarakat untuk menggunakan alat pembayaran yang mudah, aman, dan efisien. Instrumen pembayaran mikro adalah instrumen pembayaran yang di desain untuk menangani kebutuhan transaksi dengan nilai yang kecil namun dengan volume yang tinggi serta membutuhkan waktu pemrosesan transaksi yang relatif lebih cepat.

Kebutuhan instrumen pembayaran mikro timbul karena apabila pembayaran dilakukan menggunakan instrumen pembayaran lain yang ada saat ini, misalnya uang tunai, kartu debit, kartu kredit, dan sebagainya menjadi relatif tidak praktis dan efisien.

Uang elektronik muncul sebagai jawaban atas kebutuhan terhadap instrumen pembayaran mikro yang diharapkan mampu melakukan proses pembayaran secara cepat dengan biaya yang relatif murah karena pada umumnya nilai uang yang disimpan instrumen ini ditempatkan pada suatu tempat tertentu yang mampu diakses cepat secara off line, aman, dan murah.

Menurut Warjiyo (2006) dalam Waspada (2012: 2) alat pembayaran non tunai memberikan manfaat kepada perekonomian, antara lain:

  1. Tingkat kepuasan konsumen yang semakin bertambah dengan berkurangnya biaya transaksi.
  2. Adanya sumber pendapatan bagi penyedia jasa pembayaran non tunai.
  3. Peningkatan kecepatan transaksi.
  4. Pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan.

Menurut Hidayati (2006:5) beberapa manfaat atau kelebihan dari penggunaan e-money dibandingkan dengan uang tunai maupun alat pembayaran non-tunai lainnya, antara lain:

  1. Lebih cepat dan nyaman dibandingkan dengan uang tunai, khususnya untuk transaksi yang bernilai kecil (micro payment), disebabkan nasabah tidak perlu menyediakan sejumlah uang pas untuk suatu transaksi atau harus menyimpan uang kembalian. Selain itu, kesalahan dalam menghitung uang kembalian dari suatu transaksi apabila menggunakan e-money.
  2. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu transaksi dengan e-money dapat dilakukan jauh lebih singkat dibandingkan transaksi dengan kartu kredit atau kartu debit, karena tidak harus memerlukan otorisasi on-line, tanda tangan maupun PIN. Selain itu, dengan transaksi off-line, maka biaya komunikasi dapat dikurangi.
  3. Electronic Value dapat diisi ulang kedalam kartu ­e-money melalui berbagai sarana yang disediakan oleh issuer.

 

Bentuk-bentuk Uang Elektronik

Menurut Bahri (2010:12) bentuk-bentuk uang elektronik dapat dibedakan sebagai berikut:

Uang elektronik memiliki media elektronik yang berfungsi sebagai penyimpanan nilai uang (monetary value) yang dibedakan atas dua jenis:

  • Berdasarkan Medianya

Uang elektronik memiliki media elektronik yang berfungsi sebagai penyimpanan nilai uang (monetary value) yang dibedakan atas dua jenis:

  1. Uang elektronik yang nilai uang elektroniknya selain dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh penerbit juga dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh pemegang. Media elektronik yang dikelola oleh pemegang dapat berupa card – based dalam bentuk chip yangtersimpan pada kartu atau berupa software- based yang tersimpan pada harddisk yang terdapat pada personal computer milik pemegang. Dengan system pencatatan seperti ini, maka transaksi pembayaran dengan menggunakan uang elektronik dapat dilakukan secara off-line dengan mengurangi secara langsung nilai uang elektronik pada media elektronik yang dikelola pemegang.
  2. Uang elektronik yang nilai uang elektroniknya hanya dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh penerbit. Dalam hal ini pemegang diberi hak akses oleh penerbit terhadap pengguna nilai uang elektronik tersebut. Dengan system pencacatan seperti ini, maka transaksi pembayaran dengan menggunakan uang elektronik ini hanya dapat dilakukan secara on-line dimana nilai uang elektronik yang tercatat pada media elektronik yang dikelola penerbit akan berkurang secara langsung.
  • Berdasarkan Masa Berlaku Media Uang Elektronik

Berdasarkan masa berlaku medianya, uang elektronik dibedakan kedalam dua bentuk:

  1. Reloadable = Uang elektronik dengan bentuk reloadable adalah uang elektronik yang dapat dilakukan pengisian ulang, dengan kata lain, apabila masa berlakunya sudah habis dan atau nilai uang elektroniknya sudah habis terpakai, maka media uang elektronik tersebut dapat digunakan kembali untuk dilakukan pengisian ulang.
  2. Disposable = Uang elektronik dengan bentuk disposable adalah uang elektronik yang tidak dapat diisi ulang, apanila masa berlakunya sudah habis dan atau nilai uang elektroniknya sudah habis terpakai, maka media uang elektronik tersebut tidak dapat digunakan kembali untuk dilakukan pengisian ulang.
  • Berdasarkan Jangkauan Penggunaannya

Uang elektronik berdasarkan jangkauan penggunaannya dibedakan ke dalam dua bentuk:

  1. Single – Purpose. Single – purpose adalah uang elektronik yang digunakan untuk melakukan pembayaran atas kewajiban yang timbul dari satu jenis transaksi ekonomi, misalnya uang elektronik yang hanya dapat digunakan untuk pembayaran transportasi umum (Contoh: Kartu Comet untuk Commuter Line/ KRL)
  2. Multi – Purpose. Multi – purpose adalah uang elektronik yang digunakan untuk melakukan pembayaran atas kewajiban yang timbul dari berbagai jenis transaksi ekonomi, misalnya uang elektronik yang dapat digunakan untuk pembayaran tol, telepon umum, dan untuk berbelanja.

 

Jenis-jenis transaksi pada Uang Elektronik

Menurut Bahri (2010:15) jenis-jenis transaksi dengan menggunakan uang elektronik secara umum, meliputi:

  • Penerbitan (Issuance) dan Pengisian Ulang (Top-up atau Loading)

Pengisian nilai uang kedalam media uang elektronik dapat dilakukan terlebih dahulu oleh penerbit sebelum dijual kepada pemegang. Untuk selanjutnya pemegang dapat melakukan pengisian ulang (top-up) yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui penyetoran uang tunai, melalui pendebitan rekening di bank, atau melalui terminal-terminal pengisian ulang yang telah dilengkapi peralatan khusus oleh penerbit.

  • Transaksi Pembayaran

Transaksi pembayaran dengan menggunakan uang elektronik pada prinsipnya dilakukan melalui pertukaran nilai uang dalam bentuk data elektronik dengan barang antara pemegang dan pedagang dengan menggunakan protocol yang telah ditetapkan sebelumnya.

  • Transfer

Transfer dalam transaksi uang elektronik adalah fasilitas pengiriman nilai uang elektronik antar pemegang uang elektronik melalui terminal-terminal yang telah dilengkapi dengan pelatan khusus oleh penerbit.

  • Tarik Tunai

Tarik tunai adalah fasilitas penarikan tunai atas nilai uang elektronik yang tercatat pada media uang elektronik yang dimiliki pemegang yang dapat dilakukan setiap saat oleh pemegang.

  • Refund/Redeem

Refund/redeem adalah penukaran kembali nilai uang elektronik kepada penerbit, baik yang dilakukan oleh pemegang pada saat nilai uang elektronik tidak terpakai atau masih tersisa pada saat pemegang mengakhiri penggunaan uang elektronik yang diperoleh dan atau masa berlaku media uang elektronik telah berakhir, maupun yang dilakukan oleh pedagang pada saat penukaran nilai uang elektronik yang diperoleh pedagang dari pemegang atas transaksi jual beli barang kepada penerbit.

 

Perbedaan Uang Elektronik dengan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) Lainnya

Alat pembayaran menggunakan kartu yang ada di Indonesia menurut Bahri (2010: 16) adalah:

  1. Kartu Kredit

Kartu kredit adalah instrument pembayaran elektronik yang berbentuk kartu yang dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran transaksi pembelian barang dan jasa, yang pembayaran dan pelunasannya dapat dilakukan oleh pembeli secara sekaligus atau angsuran pada jangka waktu tertentu setelah kartu digunakan sebagai alat pembayaran. Kartu kredit juga dapat digunakan untuk melakukan penarikan tunai baik langsung melalui teller pada kantor bank yang bersangkutan maupun ATM.

  1. Charge Card

Charge card adalah suatu alat berbentuk kartu yang diterbitkan oleh suatu lembaga keuangan yang digunakan sebagai alat pembayaran transaksi pembelian barang dan jasa yang pembayaran pelunasannya harus dilakukan oleh pembeli secara sekaligus dalam jangka waktu tertentu kartu digunakan.

  1. Kartu Debet

Kartu debet merupakan kartu yang diterbitkan oleh lembaga keuangan yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi pembelian barang dan jasa dengan cara mendebit atau mengurangi saldo rekening simpanan pemilik kartu serta pada saat yang sama, mengkredit saldo rekening penjual sebesar nilai transaksi jual beli barang dan jasa. Pada kartu debet, pemegang kartu harus memiliki rekening pada bank. Transaksi hanya dapat dilakukan apabila pemilik kartu memiliki saldo yang mencukupi pada rekeningnya untuk menutup biaya transaksinya.

  1. Kartu ATM

Kartu ATM dapat melayani kebutuhan nasabah secara otomatis setiap saat melalui mesin ATM. Pelayanan yang diberikan ATM antara lain penarikan uang tunai, mengecek dan mencetak saldo rekening nasabah, dan pelayanan pembayaran lainnya, seperti pembayaran listrik, telepon, kartu kredit, transfer uang, dan lainnya. Pada beberapa bank penerbit kartu ATM terdapat kombinasi fungsi antara kartu debet dan kartu ATM dalam satu kartu sekaligus.

Uang elektronik memiliki karakteristik yang berbeda dengan alat pembayaran menggunakan kartu lainnya seperti contoh di atas. Secara umum perbedaan antara uang elektronik dengan alat pembayaran menggunakan kartu lainnya adalah:

Perbedaan Uang Elektronik dan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) Lainnya

No Uang Elektronik Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) Lainnya
1. Nilai uang tercatat dalam instrumen media uang elektronik Tidak ada pencatatan nilai uang pada instrument kartu
2. Dana sepenuhnya berada dalam penguasaan pemegang Dana sepenuhnya berada dalam penguasaan bank
3. Transaksi pembayaran dilakukan secara off-line ke penerbit. Transaksi pembayaran dilakukan secara on-line ke penerbit.

Sumber: Siti Hidayati, dkk, Operasional E-Money, Jakarta: BI (2006: 4)

 

Copyright by: Romadhani, Merulla (2015). Pengaruh Penerapan Uang Elektronik Sebagai E-Ticketing dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Transportasi Transjakarta. Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas BSI Bandung

Referensi:

  • Rivai, Veithal, dkk. (2001). Bank and Financial Institution Management. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • Bahri, Asep Saiful. (2010). Konsep Uang Elektronik dan Peluang Implemetasinya Pada Perbankan Syariah (Studi Kritis Terhadap Peraturan Bank Indonesia No. 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elektronik). Skripsi. Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah.
  • Hidayati, Siti, dkk. (2006). Operasional E-Money. Jakarta: Bank Indonesia.
  • Kim, Hyun Joo, Lee, Soo Jong & Shin, In Chul. (2013). Design and Implementation of In-House electronic Money Using Java Cards. (Vol. 7 No. 5 pp.103 – 114 ) International Journal of Smart Home.
  • Tim Inisiatif Bank Indonesia. (2006). Upaya Meningkatkan Penggunaan Alat Pembayaran Non Tunai Melalui Pengembangan E-Money (Work Paper). Jakarta: Bank Indonesia.

 

 

Februari 27, 2014

Sekeranjang Air Untuk Kakek

Posted in Tausyah pada 12:42 pm oleh merulalia

(I’tibar)–> bacalah!!
Sekeranjang air untuk kakek

Seorang kakek sangat rajin membaca Qur’an tiap pagi.
Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Al Qur’an nya.
Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Qur’an tiap pagi.

“Kakek, saya mencoba membaca Qur’an seperti
kakek, tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat,
saya mencoba untuk memahami, tapi setiap saya
selesai membacanya dan menutup Qur’an, saya selalu
lupa lagi.
Apa untungnya membaca Qur’an ?”
Sang kakek terdiam, dan menjawab,“ Tolong
ambilkan air dari sungai dengan keranjang ini bawakan kakek sekeranjang air,”

Sang cucu menuruti apa kata si kakek, dia mengambil air dari sungai dengan keranjang.
Tapi air selalu bocor dan habis sebelum sampai rumah. kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lain waktu. Sang cucu berlari dengan cepat, tapi tetap saja keranjang akan kosong sebelum dia sampai
rumah. Kehabisan nafas, cucu mengatakan bahwa
tidak mungkin membawa sekeranjang air, dia lalu
mencoba mengambil sebuah ember untuk mengambil air.
Laki2 tua itu berkata, “ Saya tidak mau seember air, tapi
sekeranjang air. Kau tidak cukup berusaha keras, “

Meskipun si cucu tahu bahwa itu adalah hal yang sangat
tidak mungkin, dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari. Tapi Tetap saja air
habis sebelum sampai rumah.

“ Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya ! ”
Kakek tersenyum, “ Jadi engkau pikir, ini tidak
berguna ?
coba perhatikan keranjang ini…”

Sang cucu memperhatikan keranjang yang dia bawa,
untuk pertama kalinya dia sadar, bahwa keranjang
ini sangat berbeda sekarang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang kotor, menjadi keranjang yang sangat
bersih sekarang, luar dan dalam.
“ Cucuku, Itulah yang terjadi saat kita membaca Qur’an.
Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat
segalanya, tapi ketika engkau membacanya, kau akan
berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam. Itulah yg
dilakukan Allah untuk hidupmu..

Wallahu’alam

Laman berikutnya